Senin, 30 Maret 2026

Sedekah Terbaik di Hari Jum’at - Program Nasi Jum’at Berkah Masjid Ashabul Kahfi

 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh 🤲

Hari Jum’at adalah hari yang istimewa dalam Islam. Di hari ini, setiap kebaikan yang kita lakukan akan dilipatgandakan pahalanya, termasuk sedekah.

Salah satu bentuk sedekah yang paling sederhana namun penuh makna adalah berbagi makanan kepada sesama.

🍱 Nasi Jum’at Berkah

Masjid Ashabul Kahfi menghadirkan program Nasi Jum’at Berkah, yaitu kegiatan berbagi makanan kepada jamaah dan masyarakat sekitar setiap hari Jum’at.

Program ini bertujuan untuk:

  • Membantu sesama yang membutuhkan
  • Menebar kebaikan dan keberkahan
  • Menjadi amal jariyah yang terus mengalir

💛 Kenapa Harus Ikut Sedekah?

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, justru akan melipatgandakannya.

Dengan ikut berkontribusi:

  • Kamu ikut memberi makan orang lain
  • Mendapat pahala yang terus mengalir
  • Menjadi bagian dari kebaikan yang nyata

💳 Cara Donasi

Bagi yang ingin berpartisipasi dalam program ini, bisa menyalurkan donasi melalui:

Bank BSI
No. Rekening: 103 2855 322
a.n. PHQ Ashabul Kahfi Manado


📞 Informasi

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

📱 0889 0606 2374


🌟 Mari Ambil Kesempatan di Hari Jum’at

Jangan lewatkan kesempatan untuk bersedekah di hari terbaik dalam sepekan.

Mungkin bagi kita sederhana, tapi bagi orang lain sangat berarti.

Semoga setiap kebaikan yang kita berikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir 🤍

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


    

Yuk Qurban di Masjid Ashabul Kahfi Paal Dua - Mudah, Aman, dan Penuh Berkah

 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh 🙏

Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha, Masjid Ashabul Kahfi Paal Dua kembali membuka kesempatan bagi kaum muslimin untuk menunaikan ibadah qurban.

Qurban bukan hanya sekadar ibadah, tetapi juga bentuk kepedulian sosial dan wujud ketaatan kita kepada Allah SWT. Melalui qurban, kita berbagi kebahagiaan dengan sesama, khususnya mereka yang membutuhkan.



🌟 Kenapa Harus Qurban di Sini?

✅ Amanah & terpercaya
✅ Penyaluran tepat sasaran
✅ Membantu sesama yang membutuhkan
✅ Proses mudah & transparan

🤲 Yuk, Jangan Tunda Kebaikan!

Mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua 🤍

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    

Rabu, 25 Maret 2026

Istiqomah Hingga Akhir

Istiqomah hingga Akhir

Dalam menjalani kehidupan sebagai seorang hamba, kita tidak hanya dituntut untuk beribadah, tetapi juga untuk bersabar dalam menjalankannya. Sabar bukan sekadar menahan diri dari kesulitan, melainkan keteguhan hati dalam menaati perintah Allah secara terus-menerus.

Puasa mengajarkan kita untuk bersabar dalam ketaatan dari waktu subuh hingga maghrib. Kita menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, bukan karena tidak mampu memenuhi, tetapi karena memilih untuk taat kepada Allah. Inilah latihan kesabaran yang melatih keikhlasan dan pengendalian diri.

Sholat mengajarkan kita sabar dalam jangka panjang. Sejak seseorang baligh hingga wafat, ia dipanggil lima kali sehari untuk menghadap Allah. Dalam keadaan sibuk, lelah, lapang, maupun sempit, sholat tetap menjadi kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Di sinilah terlihat makna sabar yang sesungguhnya: menjaga ketaatan sepanjang hidup.

Zakat mengajarkan kesabaran dalam urusan harta. Tidak semua orang mudah mengeluarkan apa yang ia cintai. Namun, dengan sabar dan iman, seorang mukmin rela berbagi, karena ia yakin bahwa apa yang diberikan di jalan Allah tidak akan pernah berkurang, justru akan dilipatgandakan.

Dari ketiga ibadah ini, kita belajar bahwa sabar dalam ketaatan adalah kunci untuk mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah. Bukan hanya melakukan, tetapi menjaga dan mengulanginya dengan penuh keikhlasan.

Akhirnya, istiqomah adalah tujuan kita. Tetap berada di jalan Allah, walaupun pelan, walaupun tertatih. Karena yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita melangkah, tetapi bagaimana kita mampu bertahan hingga akhir dalam ketaatan kepada-Nya.

Kamis, 25 Desember 2025

Menebar Kepedulian, Menguatkan Ukhuwah

 

Program Nasi Jumat Berkah Masjid Ashabul Kahfi

Menebar Kepedulian, Menguatkan Ukhuwah

Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat pelayanan umat dan ruang tumbuhnya kepedulian sosial. Salah satu wujud nyata dari peran tersebut adalah Program Nasi Jumat Berkah Masjid Ashabul Kahfi, sebuah ikhtiar sederhana namun penuh makna untuk berbagi rezeki dan menumbuhkan ukhuwah Islamiyah.

Program ini dilaksanakan setiap hari Jumat dengan membagikan nasi kepada jamaah, musafir, dan masyarakat sekitar masjid. Tujuannya bukan semata memberi makanan, tetapi menyampaikan pesan kasih sayang, persaudaraan, dan kepedulian antar sesama muslim.


Landasan Syariat Program Nasi Jumat Berkah

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk memberi makan dan membantu sesama, terlebih pada hari Jumat yang memiliki keutamaan tersendiri.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”
(QS. Al-Insan: 8)

Ayat ini menunjukkan bahwa memberi makan adalah amal mulia yang lahir dari keimanan dan keikhlasan hati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah di malam hari ketika manusia tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.”
(HR. Tirmidzi)¹


Keutamaan Bersedekah di Hari Jumat

Hari Jumat adalah penghulu segala hari. Amal kebaikan yang dilakukan pada hari ini memiliki nilai keutamaan yang besar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sedekah pada hari Jumat dibandingkan dengan hari lainnya adalah lebih utama.”
(HR. Al-Baihaqi)²

Karena itu, Program Nasi Jumat Berkah menjadi sarana bagi kaum muslimin untuk menghidupkan sedekah terbaik di hari yang penuh keberkahan.


Manfaat Program Nasi Jumat Berkah

Program ini memberikan banyak manfaat, di antaranya:

  1. Membantu jamaah dan masyarakat yang membutuhkan

  2. Menguatkan ukhuwah Islamiyah

  3. Menghidupkan budaya sedekah dan kepedulian sosial

  4. Menjadikan masjid sebagai pusat solusi umat

  5. Menjadi ladang amal jariyah bagi para donatur

Setiap nasi yang dibagikan bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menguatkan ikatan hati antar sesama.


Cara Berpartisipasi dan Donasi

Masjid Ashabul Kahfi membuka kesempatan seluas-luasnya bagi jamaah dan kaum muslimin untuk berpartisipasi dalam Program Nasi Jumat Berkah, baik melalui donasi rutin maupun insidental.

Rekening Donasi:

  • Bank: BSI (Bank Syariah Indonesia)

  • No. Rekening: 103.2855.322

  • Atas Nama: PHQ Ashabul Kahfi Manado

Konfirmasi Donasi / Informasi : 0895 3596 14872

Setiap donasi akan digunakan sepenuhnya untuk mendukung keberlangsungan Program Nasi Jumat Berkah dan kegiatan sosial masjid.


Penutup

Program Nasi Jumat Berkah Masjid Ashabul Kahfi adalah wujud nyata dakwah bil hal—dakwah melalui perbuatan. Dengan kebersamaan, keikhlasan, dan kepedulian, semoga program ini terus berjalan dan menjadi amal jariyah bagi seluruh pihak yang terlibat.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang shalih.”
(HR. Muslim)³

Mari bersama menebar berkah, dari masjid untuk umat.


Catatan Kaki

  1. HR. Tirmidzi, no. 2485

  2. HR. Al-Baihaqi dalam Syu‘abul Iman

  3. HR. Muslim, no. 1631

Sabtu, 20 Desember 2025

Keutamaan dan Amalan Bulan Rajab


Bulan Rajab adalah salah satu bulan yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Ia termasuk bulan yang dimuliakan (asyhurul hurum) dan menjadi momentum bagi kaum muslimin untuk memperbanyak amal kebaikan sebagai persiapan menuju bulan Ramadhan.

 Keutamaan Bulan Rajab

1. Termasuk Bulan Haram

Allah ﷻ berfirman:

 

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

 

Para ulama menjelaskan bahwa empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, dosa dilipatgandakan dan pahala amal kebaikan pun lebih besar.

 

2. Bulan untuk Meningkatkan Ketaatan

Imam Abu Bakr Al-Warraq رحمه الله berkata:

 

“Bulan Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen.”

Ungkapan ini menunjukkan bahwa Rajab adalah waktu mempersiapkan diri dengan memperbanyak amal shaleh.

 

3. Terjadi Peristiwa Isra’ Mi’raj (menurut pendapat sebagian ulama)

Sebagian ulama menyebutkan bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ terjadi pada bulan Rajab. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya shalat sebagai ibadah utama umat Islam.

Amalan-Amalan yang Dianjurkan di Bulan Rajab

1. Memperbanyak Istighfar dan Taubat

Rajab adalah momentum membersihkan diri dari dosa.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan bertaubatlah kalian kepada Allah semuanya, wahai orang-orang yang beriman.”
(QS. An-Nur: 31)

 2. Memperbanyak Shalat Sunnah

Tidak ada shalat sunnah khusus yang disyariatkan secara khusus di bulan Rajab, namun shalat sunnah secara umum sangat dianjurkan, seperti shalat rawatib, dhuha, dan tahajud.

 3. Memperbanyak Puasa Sunnah

Puasa sunnah dianjurkan sebagaimana puasa di bulan-bulan haram.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Berpuasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah.”

(HR. Abu Dawud)

 

4. Memperbanyak Sedekah

Sedekah di bulan Rajab bernilai besar karena dilakukan di waktu yang dimuliakan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.”

(HR. Tirmidzi)

 5. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an

Bulan Rajab menjadi awal yang baik untuk membiasakan diri membaca Al-Qur’an sebagai persiapan Ramadhan.

 Catatan Penting

Para ulama menegaskan bahwa tidak ada ibadah khusus seperti puasa Rajab tanggal tertentu atau shalat Raghaib yang memiliki dalil shahih. Oleh karena itu, amalan di bulan Rajab dilakukan dalam bentuk ibadah umum yang disyariatkan.

 Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali رحمه الله berkata:

“Tidak terdapat hadits shahih yang menetapkan keutamaan puasa Rajab secara khusus.”

 Penutup

Bulan Rajab adalah kesempatan berharga untuk memperbaiki diri, memperbanyak taubat, dan meningkatkan kualitas ibadah. Semoga Allah ﷻ memberi taufik kepada kita untuk mengisi bulan Rajab dengan amal shaleh sebagai bekal menuju Ramadhan.

 

Referensi

  1. Al-Qur’anul Karim, QS. At-Taubah: 36, QS. An-Nur: 31
  2. HR. Abu Dawud no. 2428
  3. HR. Tirmidzi no. 614
  4. Ibnu Rajab Al-Hanbali, Latha’if Al-Ma’arif

Selasa, 16 Desember 2025

Ashabul Kahfi: Kisah Tentang Keteguhan Iman

Kisah Ashabul Kahfi merupakan salah satu kisah agung yang diabadikan Allah Subhanahu wa Ta‘ala dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surat Al-Kahfi ayat 9–26. Kisah ini mengisahkan sekelompok pemuda beriman yang hidup di tengah masyarakat zalim dan musyrik. Mereka memilih mempertahankan akidah tauhid meskipun harus menghadapi tekanan, ancaman, bahkan pengasingan. Kisah ini menjadi teladan sepanjang masa, khususnya bagi generasi muda, tentang keberanian, keikhlasan, dan tawakal kepada Allah.

Para pemuda Ashabul Kahfi hidup di suatu negeri yang dipimpin oleh penguasa zalim yang memaksa rakyatnya menyembah selain Allah. Mereka adalah pemuda-pemuda yang hatinya dipenuhi keimanan, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah:

"Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk." (QS. Al-Kahfi: 13)

Ketika keimanan mereka terancam, para pemuda ini sepakat untuk menyelamatkan akidah dengan cara menjauh dari keramaian dan berlindung di sebuah gua. Keputusan ini bukan bentuk lari dari tanggung jawab, melainkan ikhtiar menjaga iman di tengah kondisi yang tidak memungkinkan.

Perlindungan Allah kepada Ashabul Kahfi

Atas keikhlasan dan keberanian mereka, Allah memberikan perlindungan luar biasa. Para pemuda tersebut ditidurkan di dalam gua selama ratusan tahun, sebagaimana firman-Nya:

"Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun." (QS. Al-Kahfi: 25)

Selama masa tersebut, Allah menjaga tubuh mereka, membolak-balikkan posisi mereka, serta mengatur sinar matahari agar tidak membahayakan. Semua ini menunjukkan kekuasaan Allah dan bukti bahwa siapa pun yang menjaga agama-Nya, maka Allah akan menjaga mereka dengan cara yang tidak disangka-sangka.

Nilai dan Hikmah Kisah Ashabul Kahfi

Kisah Ashabul Kahfi mengandung banyak pelajaran penting. Pertama, iman yang kokoh adalah fondasi utama dalam menghadapi tantangan zaman. Kedua, pemuda memiliki peran strategis dalam menjaga nilai-nilai kebenaran. Ketiga, tawakal kepada Allah setelah berikhtiar adalah kunci pertolongan Ilahi. Kisah ini juga mengajarkan bahwa keterbatasan manusia tidak menjadi penghalang bagi pertolongan Allah.

Kisah Ashabul Kahfi bukan sekadar cerita sejarah, melainkan pedoman hidup bagi umat Islam, khususnya generasi muda. Di tengah derasnya arus pemikiran dan gaya hidup yang menjauhkan dari nilai tauhid, keteladanan para pemuda Ashabul Kahfi menjadi inspirasi untuk tetap istiqamah, berani berbeda demi kebenaran, dan yakin bahwa Allah akan selalu menolong hamba-Nya yang menjaga iman.

Catatan Kaki

  1. Al-Qur’an, Surat Al-Kahfi ayat 9–26.

  2. Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta.

  3. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, tafsir Surat Al-Kahfi.

  4. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Lentera Hati.

Senin, 15 Desember 2025

Masjid Sebagai Pusat Kebaikan Lingkungan

Masjid memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Sejak masa Rasulullah ﷺ, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat melaksanakan shalat, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat dan sumber kebaikan bagi lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, menghidupkan masjid sebagai pusat kebaikan merupakan bagian dari upaya membangun masyarakat yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.

Allah SWT menegaskan bahwa memakmurkan masjid adalah ciri orang-orang yang beriman. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kepada siapa pun selain Allah.”
(QS. At-Taubah: 18)

Ayat ini menunjukkan bahwa masjid bukan sekadar bangunan ibadah, tetapi pusat aktivitas keimanan yang berdampak luas bagi kehidupan sosial dan lingkungan masyarakat.

Pada masa Rasulullah ﷺ, Masjid Nabawi berfungsi sebagai pusat peradaban Islam. Di masjid tersebut, Rasulullah ﷺ mengajarkan Al-Qur’an, membina akhlak para sahabat, menyelesaikan persoalan umat, hingga mengatur urusan sosial kemasyarakatan. Hal ini menegaskan bahwa masjid memiliki peran strategis dalam membentuk masyarakat yang kuat secara spiritual dan sosial.

Masjid sebagai pusat kebaikan berperan besar dalam membina keimanan dan ketakwaan masyarakat. Melalui shalat berjamaah, kajian keislaman, dan majelis taklim, masjid menjadi tempat penyucian hati dan penguatan iman. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Shalat berjamaah di masjid tidak hanya bernilai pahala besar, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga, sehingga lingkungan menjadi lebih rukun dan harmonis.

Selain itu, masjid berfungsi sebagai pusat pendidikan dan dakwah. Kegiatan seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), pengajian rutin, dan pembinaan generasi muda merupakan sarana membentuk akhlak dan karakter Islami. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari)

Hadits ini menegaskan bahwa masjid adalah tempat terbaik untuk menumbuhkan tradisi ilmu dan kebaikan di tengah masyarakat.

Dalam aspek sosial, masjid juga menjadi pusat kepedulian dan solidaritas umat. Pengelolaan zakat, infak, dan sedekah melalui masjid mampu membantu fakir miskin, anak yatim, dan kaum dhuafa. Allah SWT berfirman:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.”
(QS. At-Taubah: 103)

Dengan peran sosial ini, masjid menjadi solusi nyata dalam mengatasi problem kemiskinan dan kesenjangan sosial di lingkungan sekitar.

Masjid juga berperan penting dalam menjaga persatuan umat. Melalui ukhuwah Islamiyah yang terbangun di masjid, perbedaan dan perselisihan dapat diredam dengan nilai-nilai Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi pusat kebaikan yang membina iman, ilmu, dan kepedulian sosial. Menghidupkan masjid berarti menghidupkan nilai-nilai kebaikan dalam lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, seluruh elemen umat Islam diharapkan berperan aktif dalam memakmurkan masjid agar masjid benar-benar menjadi cahaya dan pusat kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.

Catatan Kaki
1. Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. At-Taubah [9]: 18.
2. Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Adzan; Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab Al-Masajid, hadits tentang keutamaan shalat berjamaah.
3. Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Kitab Fadha’il Al-Qur’an, hadits tentang keutamaan belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.
4. Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. At-Taubah [9]: 103.
5. Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Adab; Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah, hadits tentang persaudaraan orang beriman.